Siang ini saya hanya pergi sendiri, dan memang saya sengaja pergi sendiri agar bisa fokus untuk meneruskan novel saya. Saya pergi ke warung kopi Blandongan yang terletak tidak jauh dari kampus saya, disini suasananya nyaman dan pastinya santai sambil sesekali terdengar nyanyian sendu yang dimainkan oleh operator musik. Saya memang pecandu kopi dan penikmat rintik hujan, jika dua unsur tersebut digabung yaitu hujan dan kopi biasanya tercipta beberapa puisi tentang nostalgia.
Mengopi adalah hobi tersendiri untukku, setiap pagi, siang, dan malam tidak ketinggalan mengobrol dengan segelas kopi hitam. Di Yogyakarta lebih tepatnya di daerah dekat UIN Sunan Kalijaga ada banyak warung kopi yang selalu ramai di setiap malamnya, ada Kebun Laras, Blandongan dan masih banyak yang lainnya. Dengan segelas kopi bagiku bisa mendatangkan sebuah inspirasi untuk menulis puisi, cerpen serta karya lain termasuk lukisan abstrak.
Malam ini refresing dulu, gak pake kata-kata dengan kasta bahasa yang
tinggi. Anak dari jurusan bahasa memang menyimpan kata-kata aneh yang
tak lazim digunakan dalam pergaulan dibumi. Tapi aku tidak ingin
membahas tentang hal itu, sekarang urusan dengan hati dan cemburu. Pukul
10.15 WIB malam, masih saja aku dalam kesendirian dan hal itu sekarang
menjadi hal yang wajar, sejak masa itu hilang maka hilanglah sudah apa
yang aku impikan.
Sebentar dan permisi, aku ingin marah tapi dengan bahasa yang kotor. Maaf belum sempat membeli saringan, dengar dan rasakan kemarahanku.
Djaaaaaancok tenan suuuu asu. lanangan wajah bokep rambut wulu kempong kriwul-kriwul. Isamu kok gangguni wong cuk, pengen tak idoni raimu sing koyo bokep kuwi, juiih juuih.
asu ,jangkrik ,djancok ,kirek ,trenggiling, wedus, pitek ,bebek ,manuk ,sapi ,kebo ,emprit ,doro ,gagak, bubur ketan, sego goreng, cangcimeng ,tahu bacem, sate asuu. Wanimu lek aku gak ono cuk, petok aku mendem kembang kantil kowe cuk.
Waaaaaah ternyata belum lega, lagiiii ah.
Mripatmu puuuuicek, untumu jengil, djaaaaancok.
Sebentar dan permisi, aku ingin marah tapi dengan bahasa yang kotor. Maaf belum sempat membeli saringan, dengar dan rasakan kemarahanku.
Djaaaaaancok tenan suuuu asu. lanangan wajah bokep rambut wulu kempong kriwul-kriwul. Isamu kok gangguni wong cuk, pengen tak idoni raimu sing koyo bokep kuwi, juiih juuih.
asu ,jangkrik ,djancok ,kirek ,trenggiling, wedus, pitek ,bebek ,manuk ,sapi ,kebo ,emprit ,doro ,gagak, bubur ketan, sego goreng, cangcimeng ,tahu bacem, sate asuu. Wanimu lek aku gak ono cuk, petok aku mendem kembang kantil kowe cuk.
Waaaaaah ternyata belum lega, lagiiii ah.
Mripatmu puuuuicek, untumu jengil, djaaaaancok.
Aku gemar mengutip sesuatu yang bermakna sastra yang sering aku pakai untuk bahasa puitisku, dengan nada yang sumbang aku sering meneriakkan sesuatu itu, dengan bahasa yang tabu seriang aku suarakan itu. Ini surat yang aku temukan beberapa bulan yang lalu.
Untuk Ananda Zainuri terhormat
Aku pergi ke kota untuk mengunjungi
pamanku yang sakit parah, pertama aku akan merasa bahagia jika surat ini
benar-benar bisa kamu baca. Dan yang kedua aku akan merasa sedih jika kamu
membaca surat ini hingga akhir, akan ada kalimat-kalimat yang menusuk hati dan
aku yang merasakan pertama kali. Kamu kenal Jalaluddin kan Zain? anak juragan
tanah yang sukses, kekayaannya sanggup menghidupi seluruh keluarga yang ada di
kampong ini, kampong yang katamu budaya senioritas masih subur menjamur, aku
dijodohkan dengan Jalaluddin saat aku masih di kelas 3 aliyah di Pesantren dan
itu sebenarnya tidak membuatku bahagia, bahagiaku itu kamu Zain. Memang kita
satu susuan dan itu tidak bisa untuk menyatukan kita dipelaminan, jadi siapa
yang salah. Apakah ini salahku yang lahir ke dunia sehingga membunuh ibuku
sendiri, atau ini salah abahku yang menyuruh ibumu untuk menyusuiku megapa
abahku memilih ibumu Zain, aku sangat sedih dengan hal ini. Aku pergi ke kota
juga untuk menenangkan hatiku, kemarin abah sempat membaca surat-suratmu namun
kemudia beliau membuang surat-surat itu dengan alasan kamu terlalu pandai
untukku, bukankah calon suami itu harus seseorang yang pandai namun mengapa
abah melarangku.
Zainuri yang dirahmati Allah
Ketika kita kecil pernah suatu
ketika kamu memanggilku dengan sebutan “mbak” dan itu sepatutnya tidak kamu
ucapkan, walaupun aku lebih dahulu lahir namun aku menganggapmu masku, kakakku,
abangku. Dan hal inilah yang juga menghalangi perasaan kita, keluargaku
mempunyai adat suami harus lebih tua dari istrinya. Sungguh kepada angin yang
menghembuskan suara lirihku, aku teramat mencintaimu wahai abangku.
Dari pemilik hatimu
Adinda Safira
Dijalan itu aku berdiri
layaknya padi yang masih hijau menunggu mentari
aku menantinya yang pergi jauh menyusuri paku itu
aku sama sekali tidak puitis
dan aku juga tak pandai merayu
namun senda gurau yang bisa aku ciptakan
(Cuplikan puisi yang dibuat di Salafiyah Kajen 2013)
Dimulai dari pembukaan yang agung, kata-kataku akan sulit kamu pahami sehingga aku perlu menciptakan kamus khusus untuk menterjemahkan bahasaku sendiri yang kurang atau bahkan asing kamu dengar. Di desa yang asri dan agung ini aku diperkenalkan dengan sastra bahkan filsafat yang membuat aku seperti ini, setiap malam tak lupa aku menyambangi warung kopi favoritku yang terletak di perempatan jalan. Dan di pagi hari aku biasa ke sekolah tidak mandi dan hal itu wajar dan biasa saja untukku bahkan teman-temanku
(Cerpen yang berjudul Disana tempat ngaji beta)*
Seusai aku berjalan santai menuju lantai 2 yang nyata-nyata adalah tempat dimana para anak-anak jenius berkumpul menjadi satu sehingga menjadikan tempat itu angker bagi siapa pun termasuk para guru, karena anak-anak jenius itu seperti pramuka yaitu kompak satu tujuan(untuk tidur dan gaduh). Aku sempat haru saat temanku yang dulunya sangat malas memintaku untuk mengajarinya kitab kuning, aku maklum karena beberapa minggu lagi akan ada Tes Kitab Kuning/Salaf. Dengan tekun dia belajar dengan siapa pun termasuk denganku bahkan menyeretku saat aku masih berada dikantin sekolah hanya untuk menanyakan arti satu kalimat, dan akhirnya XII B yang angker itu dan banyak dihuni anak-anak jenius nan canggih bisa lulus 100 persen dalam tes kitab.
(Cerpen yang berjudul Kami nakal tapi bandel)*
Saat itu aku terduduk dan ditutup mataku, aku dibentak dan terus menjadi ejekan orang disitu. Aku sakit hati saat ada yang berkata seenaknya saja tanpa memikirkan nasib hati orang lain yang mungkin rentan, dan pementasan selesai.
(Teater Sutaji)
*Cuplikan beberapa karya
layaknya padi yang masih hijau menunggu mentari
aku menantinya yang pergi jauh menyusuri paku itu
aku sama sekali tidak puitis
dan aku juga tak pandai merayu
namun senda gurau yang bisa aku ciptakan
(Cuplikan puisi yang dibuat di Salafiyah Kajen 2013)
Dimulai dari pembukaan yang agung, kata-kataku akan sulit kamu pahami sehingga aku perlu menciptakan kamus khusus untuk menterjemahkan bahasaku sendiri yang kurang atau bahkan asing kamu dengar. Di desa yang asri dan agung ini aku diperkenalkan dengan sastra bahkan filsafat yang membuat aku seperti ini, setiap malam tak lupa aku menyambangi warung kopi favoritku yang terletak di perempatan jalan. Dan di pagi hari aku biasa ke sekolah tidak mandi dan hal itu wajar dan biasa saja untukku bahkan teman-temanku
(Cerpen yang berjudul Disana tempat ngaji beta)*
Seusai aku berjalan santai menuju lantai 2 yang nyata-nyata adalah tempat dimana para anak-anak jenius berkumpul menjadi satu sehingga menjadikan tempat itu angker bagi siapa pun termasuk para guru, karena anak-anak jenius itu seperti pramuka yaitu kompak satu tujuan(untuk tidur dan gaduh). Aku sempat haru saat temanku yang dulunya sangat malas memintaku untuk mengajarinya kitab kuning, aku maklum karena beberapa minggu lagi akan ada Tes Kitab Kuning/Salaf. Dengan tekun dia belajar dengan siapa pun termasuk denganku bahkan menyeretku saat aku masih berada dikantin sekolah hanya untuk menanyakan arti satu kalimat, dan akhirnya XII B yang angker itu dan banyak dihuni anak-anak jenius nan canggih bisa lulus 100 persen dalam tes kitab.
(Cerpen yang berjudul Kami nakal tapi bandel)*
Saat itu aku terduduk dan ditutup mataku, aku dibentak dan terus menjadi ejekan orang disitu. Aku sakit hati saat ada yang berkata seenaknya saja tanpa memikirkan nasib hati orang lain yang mungkin rentan, dan pementasan selesai.
(Teater Sutaji)
*Cuplikan beberapa karya
Malam ini refresing dulu, gak pake kata-kata dengan kasta bahasa yang tinggi. Anak dari jurusan bahasa memang menyimpan kata-kata aneh yang tak lazim digunakan dalam pergaulan dibumi. Tapi aku tidak ingin membahas tentang hal itu, sekarang urusan dengan hati dan cemburu. Pukul 10.15 WIB malam, masih saja aku dalam kesendirian dan hal itu sekarang menjadi hal yang wajar, sejak masa itu hilang maka hilanglah sudah apa yang aku impikan.
Sebentar dan permisi, aku ingin marah tapi dengan bahasa yang kotor. Maaf belum sempat membeli saringan, dengar dan rasakan kemarahanku.
Djaaaaaancok tenan suuuu asu. lanangan wajah bokep rambut wulu kempong kriwul-kriwul. Isamu kok gangguni wong cuk, pengen tak idoni raimu sing koyo bokep kuwi, juiih juuih.
asu ,jangkrik ,djancok ,kirek ,trenggiling, wedus, pitek ,bebek ,manuk ,sapi ,kebo ,emprit ,doro ,gagak, bubur ketan, sego goreng, cangcimeng ,tahu bacem, sate asuu. Wanimu lek aku gak ono cuk, petok aku mendem kembang kantil kowe cuk.
Waaaaaah ternyata belum lega, lagiiii ah.
Mripatmu puuuuicek, untumu jengil, djaaaaancok.
Maaf sebelumnya dan masih belum lega juga, aku lanjut lagi ke permasalahan yaitu cemburu tapi gak terlalu penting sih, entah yang dicemburuin ngrasa apa tidak. aaah pake hastag #Pekadong
Santai sajalah para kaum cowok yang gak peka, kita senasib dan seperjuangan menuju kepekaan dan aku dan kalian yang gak peka akan sangat bahagia bila ada yang berkata begini "kamu kok sekarang peka ya sama aku" atau gini "makasih udah peka ya" teruuuuus gini "aku nyaman sama kamu, sekarang udah peka". eits tapi sabar kaum cowok gak peka, pernah kalian dengar kata-kata "ada juga kok cowok yang peka sama pacarnya" coba sakitnya dimana? cowok juga perlu alaay bro, jangan monoton main top eleven terus.
Sebenarnya aku sedikit malas jika harus membahasa kepekaan, apalagi membahas soal jarak, dan sebenarnya aku ada uts dan aku belajar dikit tadi, karena aku yakin yang berlebihan itu gak baik, kalo ada yang belajar sampe berjam-jam sini aku tantang untuk debat masalah top eleven,hahahaha. enakan main game terus belajar, nah itu yang bener. Apalagi belajar kelompok sama temen-temen :-( iyaaa kamu. terus ninggalin ********* yang sendiri(main top eleven). ah malah jadi ngelantur kemana aja. Tadi siang ada temenku yang update status tentang adaptasinya di kos dan kampus, terus adek kelasnya yang masih duduk di kelas duabelas komen dan sok-sokan nasehatin gini "kuliah emang gitu, ada enak dan gak enaknya, " eh anak kelas duabelas yang tadi siang ngomen, sok tahuu kamu, delok raimu disek lho nang, iseh cilek tur hurung ngrasakke sok-sokan ngandani cuk djancuk. upps, sori lagi kebawa suasana emosi ini, makannya cerita ini gak ada alurnya.
Aku tutup postingan ini dengan kata "kamu, iyaaa kamu. Makan nasi ya jangan makan kertas terus minumnya pake air putih biar sehat jangan pake tinta".
Senyum, terdamba apa kabar
Laut itu semakin meluap
sungai itu malah semakin kering
dedaunan yang hijau kian menyamping
begitulah kiyasan hatiku padamu
bisa kamu pahamikah?
aku yang sedari dulu mencintamu,
STOOOOP, jangan menyela perkataanku
"malam ini aku ingin menyombongkan diriku, jangan
halangi aku yang sudah jelas mencintaimu dan tak apa kamu sakiti"
hatiku membatu
hatiku apatis
namun hatiku masih tetap mencintaimu
hatiku membatu untuk pemuja lain
hatiku apatis namun tidak padamu, sayang
"ini lho buat kamu"kataku
"ini sebuah persembahan sederhana, cuma kamu yang bisa
membuat hal sederhana ini menjadi mewah"
STOOOOP, jangan menyela perkataanku
aku ingin marah, sayang
bisakah kamu tenangkan aku seperti dahulu?
walaupun seperti apapun amarahku
kamu dulu sanggup kok untuk meredam
kamu bisa dan akan bisa
namun, apakah kamu bisa mendekatkan jarak ini?
aku tahu aku jauh
aku tahu aku ini siapa
aku tahu aku ini milik siapa
aku tahu dan akan selalu tahu
namun, apakah aku tahu jika hati ini tidak tahu?
hatiku suram, tingkahku aneh
dan hanya kamu yang menjadi penenangnya
aku pernah bertanya kepada dosen begini
"pak, apa itu jarak"
kemudian dosenku menjawab
"jarak itu pemisah, jarak itu dekat dan jauh"
aku pun kemudian diam, dan dosenku bertanya
"apa itu cinta"
kemudian aku menjawab
"cinta itu jarak dan jarak itu jauh, jadi cinta itu jauh
dan cintaku lagi jauh"
hatiku bernyanyi sendu setiap malam
hatiku cemburu pilu setiap malam
bisakah kamu rasakan itu, sayang
hatiku tidak sepeka impianmu
namun dengan hatiku yang seperti ini
nyatanya aku sanggup mempertahankan kamu
aku berusaha dengan ketidakpekaanku
yang kata temanku seperti berjalan tanpa tangan
yang sebenarnya berjalan itu menggunankan kaki
namun tangan adalah penyeimbang
begitupun dengan hati
hati berjalan tanpa kepekaan tetap saja bisa
namun kata temanku itu cacat
nyatanya dengan kecacatanku aku bisa mempertahankanmu
nyatanya orang yang tidak mempunyai tangan tetap berjalan seimbang
itu hal yang sederhana
antara cinta dan pendalaman hati
Hatiku rentan terluka sekarang
aku serius dengan rasaku padamu
aku tidak cuek kok
namun saja aku sedang marah padamu
aku harap kamu mengerti dengan diamku
seperti diammu kepadaku saat kamu marah
aku rindu masa-masa itu
masa dimana ada tawa yang lebat bagai hujan antara kita
namun sekarang aku mewakilinya lewat puisi yang semua tentang kamu
padahal aku, entah aku siapa
aku rindu masa bersama seperti dulu, sebelum kita dipisahkan oleh jarak
aku disini kamu disana, jauh sekali namun cintaku masih dihatimu
aku yang dulu selalu menantimu dari lantai 2 sekolah
atau berjalan pelan-pelan saat kita bertemu
atau aku yang mengintipmu dari jendela pondoknya pak masrukhan
atau aku yang selalu menitipkan surat kepada sahabatmu
yang kedatangan suratnya selalu terlambat
ini tentang kamu, yang indah-indah tentang kamu
ini tulus dari hati kok
seiring berjalannya usia aku mantapkan saja hati ini ke kamu
jika ada yang berkata bahwa aku dekat dengan wanita lain
itu berita yang tidak benar, itu musrik dan maka
bakarlah oarang yang berkata demikian
karena sekali aku bicara serius maka sampai akhirpun begitu
dulu, saat kita masih pertama pacaran
ada rasa aneh yang menghingapi ubun-ubun
dan aku berkata "aku sayang kamu"
dan aku terus berpegang dengan hal itu
walaupun kamu sakiti beberapa kali aku tetap 100 persen rapopo kok
namun jangan sengaja menyakitiku
nanti malah akhirnya aku bunuh diri terus ngambang dilaut dimakan hiu
kamu mau jika aku dimakan hiu?
STOOOOP, jangan memotong perkataanku
aku ingin bicara, aku ingin waktu yang lebih lama untuk menuntaskan ini semua
iya aku gila
iya aku psikopat
iya aku kurang ajar
iya aku bipolar
iya aku.
namun tak akan pernah secuil pun gigi ini sinis terhadap yang lain
dahiku tak akan mengernyit sedikit pun saat yang lain berbalik dengan aku
kadar dan rasa bahagiaku hanya aku dan tuhan yang tahu
tentang kisah cinta kita yang mengesankan
hanya kenangan yang merekam
namun, sejauh apapun kaki melangkah
pasti suatu saat bertemu juga.
aku sayang kamu.
Sebentar dan permisi, aku ingin marah tapi dengan bahasa yang kotor. Maaf belum sempat membeli saringan, dengar dan rasakan kemarahanku.
Djaaaaaancok tenan suuuu asu. lanangan wajah bokep rambut wulu kempong kriwul-kriwul. Isamu kok gangguni wong cuk, pengen tak idoni raimu sing koyo bokep kuwi, juiih juuih.
asu ,jangkrik ,djancok ,kirek ,trenggiling, wedus, pitek ,bebek ,manuk ,sapi ,kebo ,emprit ,doro ,gagak, bubur ketan, sego goreng, cangcimeng ,tahu bacem, sate asuu. Wanimu lek aku gak ono cuk, petok aku mendem kembang kantil kowe cuk.
Waaaaaah ternyata belum lega, lagiiii ah.
Mripatmu puuuuicek, untumu jengil, djaaaaancok.
Maaf sebelumnya dan masih belum lega juga, aku lanjut lagi ke permasalahan yaitu cemburu tapi gak terlalu penting sih, entah yang dicemburuin ngrasa apa tidak. aaah pake hastag #Pekadong
Santai sajalah para kaum cowok yang gak peka, kita senasib dan seperjuangan menuju kepekaan dan aku dan kalian yang gak peka akan sangat bahagia bila ada yang berkata begini "kamu kok sekarang peka ya sama aku" atau gini "makasih udah peka ya" teruuuuus gini "aku nyaman sama kamu, sekarang udah peka". eits tapi sabar kaum cowok gak peka, pernah kalian dengar kata-kata "ada juga kok cowok yang peka sama pacarnya" coba sakitnya dimana? cowok juga perlu alaay bro, jangan monoton main top eleven terus.
Sebenarnya aku sedikit malas jika harus membahasa kepekaan, apalagi membahas soal jarak, dan sebenarnya aku ada uts dan aku belajar dikit tadi, karena aku yakin yang berlebihan itu gak baik, kalo ada yang belajar sampe berjam-jam sini aku tantang untuk debat masalah top eleven,hahahaha. enakan main game terus belajar, nah itu yang bener. Apalagi belajar kelompok sama temen-temen :-( iyaaa kamu. terus ninggalin ********* yang sendiri(main top eleven). ah malah jadi ngelantur kemana aja. Tadi siang ada temenku yang update status tentang adaptasinya di kos dan kampus, terus adek kelasnya yang masih duduk di kelas duabelas komen dan sok-sokan nasehatin gini "kuliah emang gitu, ada enak dan gak enaknya, " eh anak kelas duabelas yang tadi siang ngomen, sok tahuu kamu, delok raimu disek lho nang, iseh cilek tur hurung ngrasakke sok-sokan ngandani cuk djancuk. upps, sori lagi kebawa suasana emosi ini, makannya cerita ini gak ada alurnya.
Aku tutup postingan ini dengan kata "kamu, iyaaa kamu. Makan nasi ya jangan makan kertas terus minumnya pake air putih biar sehat jangan pake tinta".
Senyum, terdamba apa kabar
Laut itu semakin meluap
sungai itu malah semakin kering
dedaunan yang hijau kian menyamping
begitulah kiyasan hatiku padamu
bisa kamu pahamikah?
aku yang sedari dulu mencintamu,
STOOOOP, jangan menyela perkataanku
"malam ini aku ingin menyombongkan diriku, jangan
halangi aku yang sudah jelas mencintaimu dan tak apa kamu sakiti"
hatiku membatu
hatiku apatis
namun hatiku masih tetap mencintaimu
hatiku membatu untuk pemuja lain
hatiku apatis namun tidak padamu, sayang
"ini lho buat kamu"kataku
"ini sebuah persembahan sederhana, cuma kamu yang bisa
membuat hal sederhana ini menjadi mewah"
STOOOOP, jangan menyela perkataanku
aku ingin marah, sayang
bisakah kamu tenangkan aku seperti dahulu?
walaupun seperti apapun amarahku
kamu dulu sanggup kok untuk meredam
kamu bisa dan akan bisa
namun, apakah kamu bisa mendekatkan jarak ini?
aku tahu aku jauh
aku tahu aku ini siapa
aku tahu aku ini milik siapa
aku tahu dan akan selalu tahu
namun, apakah aku tahu jika hati ini tidak tahu?
hatiku suram, tingkahku aneh
dan hanya kamu yang menjadi penenangnya
aku pernah bertanya kepada dosen begini
"pak, apa itu jarak"
kemudian dosenku menjawab
"jarak itu pemisah, jarak itu dekat dan jauh"
aku pun kemudian diam, dan dosenku bertanya
"apa itu cinta"
kemudian aku menjawab
"cinta itu jarak dan jarak itu jauh, jadi cinta itu jauh
dan cintaku lagi jauh"
hatiku bernyanyi sendu setiap malam
hatiku cemburu pilu setiap malam
bisakah kamu rasakan itu, sayang
hatiku tidak sepeka impianmu
namun dengan hatiku yang seperti ini
nyatanya aku sanggup mempertahankan kamu
aku berusaha dengan ketidakpekaanku
yang kata temanku seperti berjalan tanpa tangan
yang sebenarnya berjalan itu menggunankan kaki
namun tangan adalah penyeimbang
begitupun dengan hati
hati berjalan tanpa kepekaan tetap saja bisa
namun kata temanku itu cacat
nyatanya dengan kecacatanku aku bisa mempertahankanmu
nyatanya orang yang tidak mempunyai tangan tetap berjalan seimbang
itu hal yang sederhana
antara cinta dan pendalaman hati
Hatiku rentan terluka sekarang
aku serius dengan rasaku padamu
aku tidak cuek kok
namun saja aku sedang marah padamu
aku harap kamu mengerti dengan diamku
seperti diammu kepadaku saat kamu marah
aku rindu masa-masa itu
masa dimana ada tawa yang lebat bagai hujan antara kita
namun sekarang aku mewakilinya lewat puisi yang semua tentang kamu
padahal aku, entah aku siapa
aku rindu masa bersama seperti dulu, sebelum kita dipisahkan oleh jarak
aku disini kamu disana, jauh sekali namun cintaku masih dihatimu
aku yang dulu selalu menantimu dari lantai 2 sekolah
atau berjalan pelan-pelan saat kita bertemu
atau aku yang mengintipmu dari jendela pondoknya pak masrukhan
atau aku yang selalu menitipkan surat kepada sahabatmu
yang kedatangan suratnya selalu terlambat
ini tentang kamu, yang indah-indah tentang kamu
ini tulus dari hati kok
seiring berjalannya usia aku mantapkan saja hati ini ke kamu
jika ada yang berkata bahwa aku dekat dengan wanita lain
itu berita yang tidak benar, itu musrik dan maka
bakarlah oarang yang berkata demikian
karena sekali aku bicara serius maka sampai akhirpun begitu
dulu, saat kita masih pertama pacaran
ada rasa aneh yang menghingapi ubun-ubun
dan aku berkata "aku sayang kamu"
dan aku terus berpegang dengan hal itu
walaupun kamu sakiti beberapa kali aku tetap 100 persen rapopo kok
namun jangan sengaja menyakitiku
nanti malah akhirnya aku bunuh diri terus ngambang dilaut dimakan hiu
kamu mau jika aku dimakan hiu?
STOOOOP, jangan memotong perkataanku
aku ingin bicara, aku ingin waktu yang lebih lama untuk menuntaskan ini semua
iya aku gila
iya aku psikopat
iya aku kurang ajar
iya aku bipolar
iya aku.
namun tak akan pernah secuil pun gigi ini sinis terhadap yang lain
dahiku tak akan mengernyit sedikit pun saat yang lain berbalik dengan aku
kadar dan rasa bahagiaku hanya aku dan tuhan yang tahu
tentang kisah cinta kita yang mengesankan
hanya kenangan yang merekam
namun, sejauh apapun kaki melangkah
pasti suatu saat bertemu juga.
aku sayang kamu.
Ketika
kesadaran ini enggan untuk sadar
dan
ketika yang berlanjut adalah sebuah kebohongan
tuhan
terlalu baik dengan kita
tuhan
berbaik hati untuk membiarkanku menemukanmu
dan
akhirnya aku mencintaimu
selama
itu aku berbahagia
bahkan
saat kita tidak bersama lagi
yang
ada hanya rasa yang kalang kabut
dimana
sebenarnya tuhan meletakkanmu dalam hatiku
karena
kamu selalu ada hingga saat ini
aku
buka merayu
namun
ini yang aku tuju
sebuah
penantian yang dibalas pertemuan
(Sleman, 10.2014)
Untuk kesekian kali
aku harus berurusan dengan jarak dan dilema, aku tidak ingin membencimu karena
dengan membencimu justru membuat aku mati hati, keindahanmu memang termashur
diantara publik.
Kepadamu, bolehkah
aku bicara?
Aku memang telah
berakhir untuk menjadi kekasihmu dan
engkau yang meminta hal
tersebut, aku memang salah telah terlambat untuk memperbaiki diriku
hingga kamu mulai jenuh dan berfikiran bahwa aku telah berubah, aku memang
tidak pantas untukmu yang istimewa karena aku sederhana, dan dengan sederhana
aku dulu bisa mencintamu, dan sekali lagi aku ucapkan bahwa dengan sikap
sederhanaku aku dulu bisa mencintamu dan berjanji bahwa hati ini untuk kamu,
ingat bahwa sikap sederhanaku yang membuatku bisa berbicara banyak tentang
kamu, sikap sederhanaku yang mampu membawaku kerumahmu dan dengan sikap
sederhanaku aku berusaha mencari hati keluargamu. Dan sikap sederhanaku yang
mampu merubahku untuk sabar menghadapimu yang kadang marah tanpa arti, sikap
sederhanaku yang membuat aku bisa berkorban dalam lelahku hanya untuk menuruti
maumu dan aku bahagia dengan sikap sederhanku karena sikap sederhanaku adalah
hal istimewa untukku. Dan jika aku cuek terhadapmu, tandanya ada yang kurang
dalam diriku dan kamu tidak pernah salah karena aku yang selalu salah dimatamu
dengan sikap sederhanaku. Apakah aku salah menempatkan diriku seperti ini, saat
kamu memintaku untuk tidak sederhana maka aku itu bukan aku dan aku yang kamu
pinta itu bukan aku.
Kepadamu, bolehkah
aku bicara lagi?
Saat senja datang
dan langit birumu mulai menghitam dan pekat namun dia tetap memberikan bulan
dan bintang untuk mencerahkan malammu, langit tidak pernah biru bahkan tidak
pernah hitam andai warna tidak pernah terwujud dalam dunia, langitmu yang
dibumi juga begitu, tetap memberi bulan dan bintang untukmu.
Terpikir nikmat
semalam yang buat aku selimpangan
Kerinduan yang
mendasar terlukis dilangit malam
Ada apa gerangan
sehingga aku demikian
Rindu yang belum
terobati semakin membuat hasrat untuk temui
Ketika mentari
terbit
Aku terbangun dalam
alunan lagu harmoni
Terbentuk dari
sisa-sisa pertemuan kemarin denganmu
Cintaku yang
tersungging halus
Senyum padaku hingga
aku pulang
Aku ingin berjumpa
dalam pagi menjelang
Dasarku mencintaimu
adalah tanpa apapun
Dalam pagi yang
menjelang siang
Aku masih saja rindu
akan bayang rembulan.
Bolehkah aku meminjam ragamu?
Bolehkah aku meminjam hatimu?
aku ingin tahu rasanya menjadi peka
Terlalu banyak firasatku tentang itu, tentang angin yang terus saja menamparku tanpa henti tanpa permisi tanpa imbalan ciuman ikhlas hati. Di serambi aku duduk dan menekuni debu-debu kecil yang terbang, kata siapa terbang itu harus memakai sayap, aku terus berpikir demikian, aku tak peduli akan paham atau tidak, ini hatiku yang tak akan aku pinjamkan ke siapa pun karena hati ini untuk kamu. Aku melanjutkan lamunanku yang sempat terputus oleh debu-debu tanpa sayap yang banyak itu, aku tinggal disalah satu hati yang kosong, hati yang beku tanpa lampu yang disebut suram.
Aku terduduk sendiri diantara bingung dan duka serta kecewa, banyak yang berharap akan hatimu namun terima kasih kamu tidak menerimanya, pada hari ini kurang tiga hari dimana angka yang paling kubenci akan muncul. Yang tersayang kamu dimana?
Setiap detik ada yang aneh
hingga aku tidak tahu aku ini siapa
apakah aku bermimpi
apa yang disebut dengan benci dan cinta
mungkin tak ada bedanya
Namun selalu aku bertanya , adakah aku dimimpimu. Tolonglah aku tuhan, sentuhanku tak mampu menyentuhnya. Begitu sakit yang amat terasa hingga sakit itu sudah biasa aku rasa. Tak ada obat penawarnya, dimana? Tuhan, bantu aku mencarinya. Suara sumbang itu masih saja terdengar nyaring terdengar di telingaku.
Yogyakarta, 1 Oktober 2014
Bolehkah aku meminjam hatimu?
aku ingin tahu rasanya menjadi peka
Terlalu banyak firasatku tentang itu, tentang angin yang terus saja menamparku tanpa henti tanpa permisi tanpa imbalan ciuman ikhlas hati. Di serambi aku duduk dan menekuni debu-debu kecil yang terbang, kata siapa terbang itu harus memakai sayap, aku terus berpikir demikian, aku tak peduli akan paham atau tidak, ini hatiku yang tak akan aku pinjamkan ke siapa pun karena hati ini untuk kamu. Aku melanjutkan lamunanku yang sempat terputus oleh debu-debu tanpa sayap yang banyak itu, aku tinggal disalah satu hati yang kosong, hati yang beku tanpa lampu yang disebut suram.
Aku terduduk sendiri diantara bingung dan duka serta kecewa, banyak yang berharap akan hatimu namun terima kasih kamu tidak menerimanya, pada hari ini kurang tiga hari dimana angka yang paling kubenci akan muncul. Yang tersayang kamu dimana?
Setiap detik ada yang aneh
hingga aku tidak tahu aku ini siapa
apakah aku bermimpi
apa yang disebut dengan benci dan cinta
mungkin tak ada bedanya
Namun selalu aku bertanya , adakah aku dimimpimu. Tolonglah aku tuhan, sentuhanku tak mampu menyentuhnya. Begitu sakit yang amat terasa hingga sakit itu sudah biasa aku rasa. Tak ada obat penawarnya, dimana? Tuhan, bantu aku mencarinya. Suara sumbang itu masih saja terdengar nyaring terdengar di telingaku.
Yogyakarta, 1 Oktober 2014
Pertemuan itu mengawali semua, namaku Hermawan yang menjadi tokoh utama di cerita ini. Aku masih bingung dengan tingkah dunia yang kadang kekanakan ini, singkat cerita aku masih duduk di bawah pohon palem sore itu, beberapa orang nampak linglung seperti orang yang patah hati, mereka nampak bingung. "Ada apa ini"tanyaku dalam hati kecil.Apakah hari ini sudah kiamat? aku rasa tidak, karena pagi tadi matahari masih terbit dari arah timur dan kini hampir tenggelam dibarat, apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini?
"Sedang apa kamu disini"suara kecil nan lirih itu terdengar dan membuat aku kaget, sontak aku langsung menoleh ke arah belakang dengan cepat.
"Emmm tidak ada apa-apa, tapi aku yang aneh atau orang lain"
"tidak ada yang aneh didunia ini, hanya saja yang menganggap aneh adalah perasaan kita"
"Kau bisa lihat kan, anehnya dunia ini, terutama dunia televisi yang membuat aku bingung"
"mengapa"
"adikku tidak bisa menonton Spongebob lagi, sekarang adikku di cekoki acara siluman itu"
"oh begitu, mungkin dan mungkin ini jawaban yang pasti, semua hanya mementingkan materi Her"
Setelah pertemuan itu, aku merunduk dan membayangkan dunia yang lucu ini, yang baik kadang dianggap salah, yang buruk malah dianggap benar bahkan dianggap menghibur. Rasanya seperti kita tidak dianggap kebaikannya terhadap orang lain, semoga kamu paham dengan maksudku.
"Bangsaaaaaaaaaaaaaat"
"siapa yang bodoh"caciku dalam hati
Sore itu aku terduduk setelah perbincangan itu, yang ada hanya keping-keping kebahagiaan yang masih tersimpan, bahagia saat aku kecil dulu, saat film-film kartun masih merdeka di televisi Indonesia.
Saat aku dewasa, anak-anak pada zaman ini kehilangan bahagianya yang sangat berarti, nampaknya mereka malah menikmati sinetron-sinetron yang berbau dewasa, padahal usia mereka belum pantas untuk menonton itu. Dulu masih ada serial kartun Bobo, Dora, Rugrats, Hey Arnold dan masih banyak lagi. Bahagia dan harapan serti sifat tergantung masa kecil anak itu.
Siang itu aku hanya melamun di kos sehabis kuliah pagi, rasa kantuk dan lelah terobati saat melihat foto-foto jadul si dedek, Postur tubuhnya yang mudah berubah dan dia anak yang aneh, sebenarnya aku membicarakan diriku sendiri, hahahahaha. Dimulai saat aku masig berumur 14 tahun, sebelum tabrakan wajahku masih bersih dan agak putih sedikit, :-P
Keterangan : Foto ini diambil di salah satu pantai di Jepara, dan rambutku masih pendek karena sehabis dicukur habis.
Dan ada lagi saat usiaku masih 15 tahun, saat itu luka dan bercak masih tersisa di wajahku namun tidak begitu terlihat. Lagi-lagi memakai seragam pramuka
Keterangan : Saat itu aku masih menjadi dewan ambalan atau bahkan belum mungkin, sore itu aku latihan pramuka dengan segala tingkah gilaku, seorang anak umur 15 tahun yang sok-sokan.hahhaa
Kemudian lambat laun aku menjadi senior dengan masih membawa tingkah gilaku, dan hal itu didukung oleh teman-temanku yang gila semua,
Keterangan : Foto ini diambil di Desa Tempur, Jepara. Di sebuah kaki gunung yang sangat dingin aku dan teman-teman memandu acara penerimaan tamu ambalan, dan aku masih ingat betul hari itu adalah hari Jumat.
Dan para teman-teman yang gila dan yang menerima kegilaan teman-temannya adalah yang terbaik, seperti kalian ini.
Keterangan : Foto ini diambil di salah satu pantai di Jepara, dan rambutku masih pendek karena sehabis dicukur habis.
Dan ada lagi saat usiaku masih 15 tahun, saat itu luka dan bercak masih tersisa di wajahku namun tidak begitu terlihat. Lagi-lagi memakai seragam pramuka
Keterangan : Saat itu aku masih menjadi dewan ambalan atau bahkan belum mungkin, sore itu aku latihan pramuka dengan segala tingkah gilaku, seorang anak umur 15 tahun yang sok-sokan.hahhaa
Kemudian lambat laun aku menjadi senior dengan masih membawa tingkah gilaku, dan hal itu didukung oleh teman-temanku yang gila semua,
Keterangan : Foto ini diambil di Desa Tempur, Jepara. Di sebuah kaki gunung yang sangat dingin aku dan teman-teman memandu acara penerimaan tamu ambalan, dan aku masih ingat betul hari itu adalah hari Jumat.
Dan para teman-teman yang gila dan yang menerima kegilaan teman-temannya adalah yang terbaik, seperti kalian ini.
Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan untuk kami, naik turun gunung dengan berjalan(masak guling-guling)
Ada foto-foto lain yang keren, ah tapi kerennya bohong aja.
Entah siapa fotografer dari foto ini.
Kenangan itu akan selalu ada, karya merupakan bukti bahwa kamu pernah hidup.
Selamat malam.
bagaimana kabarmu?
Seharian kita bertingkah aneh sekali, kadang aku yang ngambek kadang pula kamu yang balik ngambek, pada jam ini tepatnya pukul 07.59 malam kamu tinggalkan aku. Aku masih terpaku sendiri disini, mendengarkan lagu ini. Lagu itu yang mengawaliku yakin bahwa dulu kita mempunyai rasa yang sama, sudah satu minggu ini aku tidak mengisi blogku dengan tulisan apapun, selama itu pula aku menulis sebuah puisi yang sebenarnya akan aku kirim sebelum kamu tidur, namun aku rasa takut, entah mengapa aku berpikir demikian, aku tidak ingin puisi ini membusuk menunggu pembacanya yaitu kamu. Jelitaku yang lalu, namun kamu masih menjadi jelitaku sampai kapan pun, apakah aku gila?? iya aku memang gila mencintaimu hingga saat kamu meminta untuk berpisah aku masih saja merengek memintamu kembali dan akhirnya kamu kembali, namun semua tidak berlangsung lama saat kamu meminta berpisah untuk kedua kalinya, apakah aku gagal?
Yang ada hanya sebuah syair pilu yang aku tulis hingga sekarang dan tidak akan berhenti, aku memang terlalu berlebihan mencintaimu hingga kamu jenuh, dan aku terlalu sederhana hingga kamu bosan, aku terlalu memanjakanmu hingga kamu merasa ingin bebas. Aku memang teramat salah melakukan itu semua, hati lelaki kadang perlu dipecut untuk lebih baik, dan aku terpecut dua kali, namun aku masih belum bsa memahami apa itu kamu.
Dan sebuah perasaan akan terus mengembang, mohon patahkan teoriku tentang Orang yang istimewa akan kalah dengan orang yang selalu ada, mohon teramat sangat, patahkanlah teori itu jelita, aku memang tidak peka terhadapmu, dan saat kamu bilang"ada juga cowok yang peka sama ceweknya"dan setelah kamu mengatakan demikian aku merasa gagal, gagal sebagai segalanya, gagal sebagai langitmu dan kamu lupa sesuatu.
Sebuah syair yang aku tulis pada tanggal 5 September 2014
Beriak air pada pagi yang indah
kemarin sebuah percaturan terjadi
terpaksa aku yang diundur kedua kali
aku memandang sebuah kelancangan hati
menerka setelah ini apa yang terjadi
aku harap ini hanya mimpi
mungkin ini jalan tuhan
yang mengisyaratkan aku harus belajar mencintaimu lagi
aku menerka abadi
namun aku tidak bisa
aku bersyair sepanjang jalan kenangan yang kita buat
aku tidak menyesal pernah mencintamu
namun aku menyesal mengapa aku tidak bisa percaya
tuhan pun menerangkan semua lewat perkataanmu
sejuk damai namun aku tidak rasakan itu
kamu bilang aku harus bersabar
namun kesabaranku sudah diperkosa oleh tangis
kamu bilang aku harus mencari yang lain
namun yang lain sudah mati
kamu bilang kita pasti bersama lagi
namun kapankah itu
aku bergelayut pada dahan
dahan yang lapuk dan 3 detik lagi hancurkan aku ditanah
(Yogyakarta, Serambi Perlawanan UIN Sunan Kalijaga)
Selamat malam manusia yang selalu aku nanti hingga saat ini.
Dariku :-D
Aku melupakan sebuah lagu, aku tulis liriknya untukmu
aku Adalah Kekasih Yang Tak Pernah
Mungkin Engkau Lupa
dan Akulah Yang Ada Didirimu dan Jiwamu
Terlalu Banyak Yang Sudah aku Berikan
Kepadamu dan Akhirnya Harapan Didiriku
dan didirimu
Tak Mungkin Semua Yang Sudah Satu Hati
Hancur Tercabik Dalam Waktu Yang Tak Pasti
Karena Semua Rasaku Hanya Padamu
Untuk Selamanya
Walaupun Langit Akan Jatuh
Pada Hari Yang Terakhir
aku Akan Berikan Hatiku Kepadamu
bagaimana kabarmu?
Seharian kita bertingkah aneh sekali, kadang aku yang ngambek kadang pula kamu yang balik ngambek, pada jam ini tepatnya pukul 07.59 malam kamu tinggalkan aku. Aku masih terpaku sendiri disini, mendengarkan lagu ini. Lagu itu yang mengawaliku yakin bahwa dulu kita mempunyai rasa yang sama, sudah satu minggu ini aku tidak mengisi blogku dengan tulisan apapun, selama itu pula aku menulis sebuah puisi yang sebenarnya akan aku kirim sebelum kamu tidur, namun aku rasa takut, entah mengapa aku berpikir demikian, aku tidak ingin puisi ini membusuk menunggu pembacanya yaitu kamu. Jelitaku yang lalu, namun kamu masih menjadi jelitaku sampai kapan pun, apakah aku gila?? iya aku memang gila mencintaimu hingga saat kamu meminta untuk berpisah aku masih saja merengek memintamu kembali dan akhirnya kamu kembali, namun semua tidak berlangsung lama saat kamu meminta berpisah untuk kedua kalinya, apakah aku gagal?
Yang ada hanya sebuah syair pilu yang aku tulis hingga sekarang dan tidak akan berhenti, aku memang terlalu berlebihan mencintaimu hingga kamu jenuh, dan aku terlalu sederhana hingga kamu bosan, aku terlalu memanjakanmu hingga kamu merasa ingin bebas. Aku memang teramat salah melakukan itu semua, hati lelaki kadang perlu dipecut untuk lebih baik, dan aku terpecut dua kali, namun aku masih belum bsa memahami apa itu kamu.
Dan sebuah perasaan akan terus mengembang, mohon patahkan teoriku tentang Orang yang istimewa akan kalah dengan orang yang selalu ada, mohon teramat sangat, patahkanlah teori itu jelita, aku memang tidak peka terhadapmu, dan saat kamu bilang"ada juga cowok yang peka sama ceweknya"dan setelah kamu mengatakan demikian aku merasa gagal, gagal sebagai segalanya, gagal sebagai langitmu dan kamu lupa sesuatu.
Sebuah syair yang aku tulis pada tanggal 5 September 2014
Beriak air pada pagi yang indah
kemarin sebuah percaturan terjadi
terpaksa aku yang diundur kedua kali
aku memandang sebuah kelancangan hati
menerka setelah ini apa yang terjadi
aku harap ini hanya mimpi
mungkin ini jalan tuhan
yang mengisyaratkan aku harus belajar mencintaimu lagi
aku menerka abadi
namun aku tidak bisa
aku bersyair sepanjang jalan kenangan yang kita buat
aku tidak menyesal pernah mencintamu
namun aku menyesal mengapa aku tidak bisa percaya
tuhan pun menerangkan semua lewat perkataanmu
sejuk damai namun aku tidak rasakan itu
kamu bilang aku harus bersabar
namun kesabaranku sudah diperkosa oleh tangis
kamu bilang aku harus mencari yang lain
namun yang lain sudah mati
kamu bilang kita pasti bersama lagi
namun kapankah itu
aku bergelayut pada dahan
dahan yang lapuk dan 3 detik lagi hancurkan aku ditanah
(Yogyakarta, Serambi Perlawanan UIN Sunan Kalijaga)
Selamat malam manusia yang selalu aku nanti hingga saat ini.
Dariku :-D
Aku melupakan sebuah lagu, aku tulis liriknya untukmu
aku Adalah Kekasih Yang Tak Pernah
Mungkin Engkau Lupa
dan Akulah Yang Ada Didirimu dan Jiwamu
Terlalu Banyak Yang Sudah aku Berikan
Kepadamu dan Akhirnya Harapan Didiriku
dan didirimu
Tak Mungkin Semua Yang Sudah Satu Hati
Hancur Tercabik Dalam Waktu Yang Tak Pasti
Karena Semua Rasaku Hanya Padamu
Untuk Selamanya
Walaupun Langit Akan Jatuh
Pada Hari Yang Terakhir
aku Akan Berikan Hatiku Kepadamu
Aku tersenyum
menjelajah pagi yang penuh goresan bekas subuh
guratan garis-garis indah terpampang diatasku
aku melamun sejak semalam
baru pagi tadi aku tersadar
yang terindah mungkin harus memilih
antara bebas dan aku
aku mencintainya
bahkan melebihi gilaku
aku pernah disakitinya
namun karena cintaku
aku bertahan hingga sekarang
walaupun tak lagi seperti yang dulu
aku mengkiyaskan hati sebagai puisi
yang indah hanya menjalani
yang suram pun demikian
aku menjagamu sebagaimana hati
hati yang kian berbeda
hati yang mudah terluka
hati yang entah terserah kamu anggap apa
hanya saja aku disini
menjajakan senyumanku untukmu
mengernyit dahiku
memandang potretmu
hanya sendiri
meratap sepi yang kita buat
aku menanti
menantimu dengan setiap hari dengan puisi
menjelajah pagi yang penuh goresan bekas subuh
guratan garis-garis indah terpampang diatasku
aku melamun sejak semalam
baru pagi tadi aku tersadar
yang terindah mungkin harus memilih
antara bebas dan aku
aku mencintainya
bahkan melebihi gilaku
aku pernah disakitinya
namun karena cintaku
aku bertahan hingga sekarang
walaupun tak lagi seperti yang dulu
aku mengkiyaskan hati sebagai puisi
yang indah hanya menjalani
yang suram pun demikian
aku menjagamu sebagaimana hati
hati yang kian berbeda
hati yang mudah terluka
hati yang entah terserah kamu anggap apa
hanya saja aku disini
menjajakan senyumanku untukmu
mengernyit dahiku
memandang potretmu
hanya sendiri
meratap sepi yang kita buat
aku menanti
menantimu dengan setiap hari dengan puisi







